Tahun Baru, Status dengan luka Baru

Tahun Baru, Status dengan luka Baru

Ilustrasi/AI/Panji Hangara--

Desember yang Runtuh

 

Sukabumi, AktualNews -Desember selalu identik dengan hujan. Bagi Aponk, hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit, melainkan pertanda runtuhnya segalanya.

Ia duduk sendiri di beranda rumah kecil yang dindingnya mulai lapuk dimakan usia. Angin malam menyelinap lewat celah-celah papan, menusuk hingga ke tulang. Nama Aponk bukan nama lahirnya, hanya panggilan yang melekat sejak lama. Namun, di bulan itu, nama itu seakan tak lagi punya arti apa-apa.

Rumah tangganya yang dibangun dari harapan dan kerja keras perlahan retak.

Perjuangan yang Tak Pernah Mudah

Segalanya dulu terasa sederhana. Istrinya membuka warung kecil di depan rumah, menjual kopi, mi instan, dan kebutuhan seadanya. Setiap pagi Aponk berangkat mencari pekerjaan, apa saja yang bisa ia lakukan. Kadang jadi buruh bangunan, kadang mengangkat barang, kadang pulang dengan tangan kosong.

Namun, mereka jarang mengeluh.

Di meja makan kecil, mereka tertawa, berbagi cerita, dan saling meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Cinta tumbuh bukan dari kelimpahan, melainkan dari kebersamaan dalam kekurangan.

BACA JUGA:Luka yang Tak Tunduk pada Waktu

Rumah yang Tak Pernah Tetap

Kesulitan ekonomi datang tanpa permisi. Masalah orang lain ikut menyeret mereka ke jurang yang sama. Uang habis, sewa menunggak, dan mereka harus pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain.

Akhirnya, orang tua datang membawa belas kasih. Sebuah rumah gadaian diserahkan untuk mereka tempati. Bukan rumah mewah, tetapi cukup untuk disebut tempat pulang.

Aponk mengira badai sudah lewat.

Share
Berita Lainnya