Dari "Ngak-ngik-ngok" hingga Musik "Cengeng", Dua Presiden RI Pernah Mengkritik Musik
Dua Presiden RI/Indonesiana/Tempo--
Jakarta, AktualNews -Musik sebagai bagian dari budaya dan ekspresi seni seringkali menjadi sorotan dalam konteks perkembangan bangsa. Di Indonesia, dua Presiden Republik Indonesia pada masa yang berbeda pernah mengeluarkan kritik terhadap aliran musik tertentu yang dinilai tidak sesuai dengan semangat membangun negara. Pertama adalah Presiden Soekarno yang mengencam musik yang disebutnya "ngak-ngik-ngok" melalui kelompok Koes Bersaudara, dan kemudian Presiden Soeharto yang menyatakan musik "cengeng" pada era 1980-an dapat mematahkan semangat pembangunan.
BACA JUGA:Koes Bersaudara, Kisah di Balik Nama yang Menjadi Ikon Musik Tanah Air
Era Soekarno: Kritik Terhadap Musik "Ngak-ngik-ngok" dan Kasus Koes Bersaudara
Pada tahun 1965, kelompok musik Koes Bersaudara yang tengah naik daun dengan gaya musik rock and roll Barat menjadi sasaran kritik keras dari Presiden Soekarno. Presiden menyebut musik yang mereka mainkan sebagai "musik ngak-ngik-ngok" yang dianggap tidak sesuai dengan jiwa dan budaya bangsa Indonesia yang sedang berjuang membangun diri pasca kemerdekaan.
Menurut Soekarno, musik yang mengusung gaya Barat tersebut dapat mempengaruhi generasi muda menjauhi nilai-nilai kebangsaan dan semangat gotong royong yang menjadi dasar pembangunan negara. Kelompok ini bahkan pernah ditangkap dan dipenjara karena dianggap menyebarkan budaya asing yang tidak pantas. Meskipun demikian, kasus Koes Bersaudara juga menjadi titik balik dalam perkembangan musik Indonesia, yang kemudian mendorong munculnya aliran musik lokal yang lebih berakar pada budaya tanah air.
Era Soeharto: Musik "Cengeng" yang Dinilai Mampu Mematahkan Semangat Membangun
Pada era 1980-an, Presiden Soeharto mengeluarkan pernyataan tentang musik yang disebutnya "cengeng". Istilah ini digunakan untuk menggambarkan musik dengan lirik dan irama yang dinilai terlalu sentimental, penuh dengan keluhan, atau fokus pada tema cinta yang dianggap tidak memberikan kontribusi positif bagi semangat pembangunan negara.
Presiden Soeharto menegaskan bahwa pada masa dimana Indonesia tengah giat membangun berbagai sektor pembangunan nasional, generasi muda perlu didorong dengan karya seni yang mampu membangkitkan semangat juang, kerja keras, dan cinta tanah air. Musik "cengeng" dianggap berpotensi membuat masyarakat, terutama pemuda, menjadi kurang produktif dan teralihkan dari tujuan pembangunan bersama. Kritik ini kemudian mendorong industri musik Indonesia untuk menghasilkan karya yang lebih berorientasi pada tema kebangsaan dan pembangunan.
BACA JUGA:Integrasi Musik dan Spiritualitas dalam Pendekatan Medis Koma
Konteks Sejarah di Balik Kritik Kedua Presiden
Kritikan yang datang dari kedua Presiden tersebut tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah dan kondisi bangsa pada masing-masing era. Pada masa Soekarno, Indonesia baru saja meraih kemerdekaan dan tengah berusaha membangun identitas kebangsaan yang kuat, sehingga setiap bentuk ekspresi yang dianggap mengancam identitas tersebut menjadi perhatian penting.
Sementara pada masa Soeharto, negara sedang dalam tahap pembangunan ekonomi dan infrastruktur yang masif. Semangat kerja keras dan kesatuan menjadi kunci utama, sehingga karya seni yang dinilai tidak mendukung hal tersebut dianggap perlu untuk dikoreksi. Meskipun pandangan tersebut kini bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda, namun kedua kritik tersebut mencerminkan perhatian pemerintah terhadap peran seni dan budaya dalam membentuk karakter bangsa.***
- Share
-