Menguatkan Pohon Kehidupan

Menguatkan Pohon Kehidupan

Ilustrasi bermasyarakat/Pixabay --

Jakarta, AktualNews -Ada tiga tingkatan kehidupan (stages of life) manusia yang saling terkait dan menentukan. Yaitu kehidupan individual (al-fard), kehidupan keluarga (al-usrah), dan kehidupan komunal (al-ijtima’i). 

Dalam kehidupan individualnya manusia dituntut untuk melakukan banyak hal. Secara duniawi mereka misalnya perlu makan, minum, istirahat, dan seterusnya. Secara agama mereka harus sholat, puasa, dzikir bahkan qiyamul lael dan seterusnya.

Kehidupan keluarga juga menjadi sangat urgen. Sebab dalam pandangan Islam keluarga memang diposisikan sebagai fondasi kehidupan komunal (publik). Sehingga dalam pandangan Islam dapat dikatakan bahwa sebuah bangsa bagaimanapun kuatnya secara ekonomi, politik bahkan militer, tapi mengalami banyak krisis keluarga, sesungguhnya bangsa itu adalah bangsa yang berada di ambang kejatuhannya.

Sedemikian pentingnya keluarga dalam Islam sehingga dianggap sebagai sumber ketentraman hidup (sakinah). Selain itu, dalam Islam regulasi atau aturan-aturan yang berkaitan dengan keluarga sangat rinci. Dari sejak mencari calon pasangan, menikah, melahirkan, hingga karena satu dan lain hal terjadi perceraian (hak-hak setelah perceraian) bahkan kematian Islam mengaturnya (hukum waris).

BACA JUGA:MENAPAK SAAT-SAAT TERAKHIR REZIM (2): Seruan Nasional untuk Selamatkan Indonesia dan Merdeka Kembali

Namun tidak kalah pentingnya juga adalah kehidupan Komunitas (al-jama’i). Islam diyakini sebagai jalan hidup pastinya tidak saja mengatur kehidupan fardi atau individu. Tapi juga memberikan petunjuk tentang kehidupan kolektif ini. Manusia adalah makhluk sosial dan Karenanya mereka memiliki naluri untuk hidup secara jama’i (sosial).

Oleh karena kehidupan kolektif adalah aspek kehidupan yang sangat penting maka sangat wajar jika tatanan kehidupan kolektif itu juga diatur sedemikian rupa dalam ajaran Islam. Satu di antaranya adalah pentingnya imamah (kepemimpinan) yang memiliki acuannya dalam Islam.

BACA JUGA:Ancaman Kekerasan Terhadap Perempuan di Era Digital

Pohon kehidupan 

 

Yang ingin saya garis bawahi kali ini adalah bahwa ketiga aspek kehidupan itu (fardi, usrah, jama’i) harus terbangun di atas fondasi yang solid. Sekiranya kehidupan itu dilustrasikan sebagai bangunan maka hal yang paling menentukan soliditasnya adalah fondasi dari bangunan itu. 

Fondasi kehidupan adalah akidah (al-iman). Sebuah konsep yang telah disepakati oleh umat ini (ijmaul ummah). Tanpa Iman kehidupan menjadi rapuh, apapun polesan-polesan indah yang melekat. Bagaikan bangunan yang dilengkapi dengan dekorasi-dekorasi yang indah tanpa fondasi yang kuat pastinya akan runtuh.

Iman dalam Islam didefenisikan dengan ragam defenisi. Salah satunya adalah hadits Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa: “iman itu bukan angan-angan dan bukan khayalan. Tapi apa yang tertanam kokoh dalam hati dan teraktualkan dengan amal”. 

Di Al-Quran sendiri iman dijelaskan di berbagai tempat. Di ayat-ayat pertama surah Al-Anfal misalnya Allah menjelaskan siapa orang-orang beriman itu. Demikian pula di ayat-ayat pertama Surah Al-Mukminun dan ayat-ayat terlahir di Surah Al-Hujurat. 

Sumber:

Berita Terkait