Elegi untuk Sebuah Negeri, Ketika Cinta di Ambang Revolusi
--
Jakarta, AktualNews- Buku kedua melanjutkan kisah keluarga dr. Sutan Arifin dengan menempatkan putra tunggalnya, Sutan Sagaf, sebagai tokoh utama. Pada awal dekade 1960-an, ia memperoleh kesempatan langka untuk belajar ilmu kedokteran di Sechenov First Moscow Medical Institute, salah satu institusi kedokteran paling bergengsi di Uni Soviet. Keberangkatannya merupakan bagian dari kerja sama pendidikan antara Indonesia dan negara-negara Blok Timur yang ketika itu membuka kesempatan bagi mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di Eropa Timur.
Bagi keluarga dr. Sutan Arifin, keberhasilan itu adalah kebanggaan sekaligus harapan. Sutan Sagaf bercita-cita kembali ke tanah air sebagai dokter spesialis untuk melanjutkan pengabdian ayahnya kepada bangsa Indonesia. Masa depannya tampak begitu terang.
BACA JUGA:Elegi untuk Sebuah Negeri: Ketika Cinta di Ambang Revolusi
Namun sejarah bergerak ke arah yang tak pernah mereka bayangkan.
Pergolakan politik setelah peristiwa 1965 mengubah nasib ribuan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di luar negeri. Sebagian kehilangan perlindungan negara, kesulitan memperpanjang dokumen perjalanan, dan tidak dapat kembali ke Indonesia. Dalam pusaran sejarah itulah Sutan Sagaf terperangkap. Ia bukan aktivis politik, bukan pula tokoh ideologi. Ia hanyalah seorang mahasiswa kedokteran yang mendadak kehilangan kepastian tentang masa depan.
Kabar itu menghancurkan hati ibunya, Catharina van der Meer.
Tanpa ragu, Catharina meninggalkan Indonesia dan kembali ke Leiden, kota tempat ia dibesarkan. Ia menyadari bahwa satu-satunya harapan untuk menyelamatkan putra semata wayangnya adalah memanfaatkan status kewarganegaraan Belanda yang masih dimilikinya serta jaringan keluarga Van der Meer yang telah lama dikenal di kalangan akademik dan pemerintahan Belanda.
Berbulan-bulan ia menjalani perjuangan yang melelahkan. Ia mengetuk pintu berbagai kantor pemerintahan, berkonsultasi dengan kalangan diplomatik, meminta bantuan sahabat-sahabat lama keluarganya, serta menjalin komunikasi dengan Universitas Leiden dan berbagai pihak yang mungkin dapat membuka jalan bagi putranya. Setiap surat yang dikirim, setiap pertemuan yang dijalani, dan setiap penolakan yang diterimanya menjadi bagian dari perjuangan seorang ibu yang menolak menyerah pada keadaan.
Baginya, perjuangan itu bukan persoalan politik. Bukan pula tentang pertarungan ideologi Timur dan Barat. Yang ingin diselamatkannya hanyalah kehidupan seorang anak yang tidak bersalah.
Sementara itu, dr. Sutan Arifin tetap bertahan di Indonesia. Sebagai seorang nasionalis yang telah mengabdikan hidupnya bagi republik sejak masa perjuangan kemerdekaan, ia masih percaya bahwa keadaan suatu hari akan membaik dan putranya dapat kembali tanpa harus meninggalkan identitasnya sebagai orang Indonesia.
Perbedaan keyakinan itu berubah menjadi pertengkaran paling hebat dalam rumah tangga mereka.
Pada suatu malam yang dipenuhi kemarahan dan air mata, Catharina berkata kepada suaminya,
"Selama puluhan tahun engkau mengabdikan hidupmu kepada republik ini. Engkau meninggalkan begitu banyak kesempatan demi bangsa yang kau cintai. Tetapi ketika putra kita membutuhkan perlindungan, republik yang kau bela tidak mampu menyelamatkannya."
Air matanya mengalir, tetapi suaranya tetap teguh.
- Share
-