Elegi untuk Sebuah Negeri, Ketika Cinta di Ambang Revolusi

Elegi untuk Sebuah Negeri, Ketika Cinta di Ambang Revolusi

--

"Yang berjuang menyelamatkan anak kita bukan negara, bukan para pejabat yang dahulu menghormatimu, melainkan aku—ibunya. Aku menggunakan seluruh hubungan yang masih kumiliki, seluruh martabat keluargaku, bahkan kembali mengetuk pintu negeri yang dahulu kutinggalkan demi menyelamatkan anak kita."

Ia memandang suaminya dengan tatapan yang selama bertahun-tahun menyimpan luka.

"Engkau masih berbicara tentang pengabdian kepada bangsa ketika jasa-jasamu tidak mampu melindungi darah dagingmu sendiri. Seluruh pengorbananmu seakan lenyap ditelan perubahan zaman. Yang tersisa hanyalah seorang ibu yang berjuang sendirian."

Sesaat kemudian, dengan suara lirih yang jauh lebih menyakitkan daripada teriakan, ia berkata,

"Aku meninggalkan negeriku karena mencintaimu. Aku membangun hidup di Indonesia, membesarkan anak kita sebagai orang Indonesia, dan mempercayai cita-citamu. Tetapi hari ini aku harus kembali menjadi perempuan Belanda agar anak kita tetap hidup."

Bagi Catharina, itu bukanlah pengkhianatan terhadap Indonesia. Itu adalah naluri seorang ibu yang rela mengorbankan harga diri, masa lalu, dan seluruh hidupnya demi keselamatan putra semata wayangnya.

BACA JUGA:Ruang Kecil yang Penuh Arti

Di tengah bayang-bayang Perang Dingin, konflik keluarga ini berkembang menjadi pergulatan tentang makna nasionalisme, kesetiaan kepada negara, cinta kepada keluarga, dan hati nurani. Tidak ada pilihan yang sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Setiap tokoh dipaksa membayar harga atas keyakinannya masing-masing.

Perjuangan Catharina van der Meer menjadi jantung emosional buku kedua—sebuah kisah tentang seorang ibu yang menembus batas negara, sejarah, dan ideologi demi menyelamatkan anaknya, ketika dunia di sekelilingnya sedang terpecah oleh revolusi dan politik global.***

Share
Berita Lainnya