The Last Romance Between Two Worlds
--
Jakarta, AktualNews- Sejak kecil, saya tumbuh dengan bayangan tentang dunia yang jauh di seberang layar kaca—dunia para koboi, padang luas Amerika Barat, dan kisah-kisah pertemuan antara dua peradaban yang sering digambarkan saling berseberangan. Dalam berbagai film yang saya tonton, konflik antara para koboi dan suku-suku asli Amerika, termasuk Apache, kerap menjadi latar cerita yang dramatis. Namun, tanpa saya sadari, perhatian saya tidak selalu tertuju pada mereka yang disebut “pahlawan utama”. Justru, ada daya tarik tersendiri pada sosok-sosok dari bangsa Native American—sebuah daya tarik yang lahir dari rasa ingin tahu yang sederhana, namun menetap lama di dalam ingatan.
Mereka digambarkan sebagai manusia yang hidup dekat dengan alam, menjunjung tradisi, dan membawa identitas budaya yang kuat di tengah perubahan zaman. Dari sana, tumbuh ketertarikan untuk memahami lebih jauh bukan hanya tentang konflik yang sering diceritakan, tetapi juga tentang kehidupan, nilai, dan warisan yang mereka jaga.
BACA JUGA:Kan Kuikat Hatimu dengan Cinta yang Berbeda
Seiring waktu, ketertarikan itu tidak pernah benar-benar hilang. Bahkan di era media sosial saat ini, tanpa saya rencanakan, berbagai informasi tentang sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Native American kembali hadir di hadapan saya. Seolah-olah ada benang halus yang terus menghubungkan masa kecil dengan masa kini.
Karya ini lahir dari refleksi panjang atas ketertarikan tersebut—bukan sebagai catatan sejarah, melainkan sebagai sebuah kisah fiksi tentang cinta, perbedaan, dan pertemuan dua dunia yang tidak selalu mudah untuk bersatu. Sebuah romansa yang berdiri di batas budaya, waktu, dan identitas.
BACA JUGA:Pramoedya Ananta Toer: Sejarah Kelam dan Perjalanan Menjadi Sastrawan Besar
The Last Romance Between Two Worlds adalah perjalanan imajinasi tentang bagaimana cinta mencoba bertahan di tengah dunia yang saling berbeda, dan mungkin, saling tidak memahami.***
- Share
-