Tahun Baru, Luka yang Tak Sempat Sembuh ( 2)

Tahun Baru, Luka yang Tak Sempat Sembuh ( 2)

Ilustrasi/AI--

Waktu tidak pernah menunggu siapa pun. Hutang pekerjaan menanti untuk dibayar, dan Aponk harus kembali ke luar kota. Uangnya telah habis lebih dulu digunakan menutup lubang-lubang lama yang tak kunjung tertutup.

Perpisahan dengan anaknya kembali terjadi. Tidak ada air mata berlebihan, hanya pelukan yang sedikit lebih lama dari biasanya. Aponk pergi dengan hati berat, membawa rindu yang belum sempat terobati.

Meski raganya jauh, kabar dari kampung terus berdatangan. Tentang laporan yang belum selesai. Tentang mantan istrinya yang akan berangkat ke luar negeri sebagai TKW. Setiap kabar seperti membuka luka lama yang belum kering.

 

Aponk mulai memahami:

jarak tidak selalu menyembuhkan. Kadang justru membuat luka terasa lebih dalam.

 

Belajar Bertahan

Di kota asing itu, Aponk belajar hidup dengan cara baru—lebih diam, lebih menunduk, lebih sabar. Ia tidak lagi mudah tersulut emosi. Hidup telah mengajarinya dengan cara yang keras.

Ia mulai menyadari bahwa menjadi lelaki bukan tentang siapa yang paling berani bertarung, tetapi siapa yang mampu menahan diri ketika dunia terasa tidak adil.

Setiap malam sebelum tidur, ia memanjatkan doa sederhana:

agar anaknya tumbuh baik,

agar dirinya diberi kekuatan,

dan agar masa lalu berhenti mengejarnya suatu hari nanti.

BACA JUGA:Senyum yang Mengoyak Hati

Share
Berita Lainnya