Tahun Baru, Luka yang Tak Sempat Sembuh ( 2)

Tahun Baru, Luka yang Tak Sempat Sembuh ( 2)

Ilustrasi/AI--

Sukabumi, AktualNews -Tahun 2006 baru berjalan sepuluh hari, tetapi tubuh Aponk seolah telah melewati setahun penuh penderitaan. Setiap langkah terasa berat, seakan kakinya menapak di atas lumpur yang terus menarik ke bawah. Ia bekerja di luar kota jauh dari rumah, jauh dari anaknya, jauh dari puing-puing rumah tangga yang telah runtuh.

Ia bangun pagi sebelum matahari muncul, bekerja hingga senja tanpa banyak bicara. Bukan karena tak ingin berbicara, melainkan karena tak tahu lagi apa yang bisa diucapkan. Hidupnya kini hanya berisi rutinitas dan diam.

BACA JUGA:Tahun Baru, Status dengan luka Baru

Di sela waktu istirahat, Aponk sering memandangi langit asing di atas kepalanya. Langit yang sama, tetapi terasa berbeda. Tidak ada rumah, tidak ada tawa anak, tidak ada seseorang yang menunggunya pulang.

Yang tersisa hanyalah kewajiban: bekerja agar hidup tetap berjalan.

Kabar dari Kampung

Suatu sore, ponsel Aponk bergetar. Sebuah pesan singkat dari kampung halaman membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Kabar itu singkat, tetapi menghantam keras:

Aponk dilaporkan ke pihak berwajib.

Dunia seakan berhenti berputar. Ia duduk terdiam, napasnya tertahan. Tuduhan itu bukan tanpa sebab ia tahu betul dari mana asalnya. Lelaki yang dulu ia panggil teman. Lelaki yang diam-diam merusak rumah tangganya sendiri.

Ingatan Aponk melompat ke masa beberapa minggu lalu. Saat rumahnya dipenuhi teriakan, air mata, dan kebenaran yang terlalu pahit untuk ditelan. Saat emosinya memuncak dan akalnya kalah oleh amarah.

Pesan itu masih jelas di kepalanya pesan yang ia kirim tanpa berpikir panjang, tanpa mempertimbangkan akibat:

"Kamu lelaki, saya lelaki. Kita ketemu. Kita bikin surat perjanjian di atas materai. Kita berantem secara jantan. Kalau salah satu mati, jangan ada campur tangan hukum."

Kini, kata-kata itu menjelma menjadi jerat.

 

Share
Berita Lainnya