"Yang jadi masalah bukan sulit ditemuinya, tapi bagaimana caranya tetap menjaga empati," kata Aji. Ia mencontohkan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang meski sibuk, tetap menyempatkan diri menyapa warga kecil saat kunjungan.
Fenomena "semakin tersohor semakin sulit ditemui" adalah fakta sosial, bukan sekadar persepsi. Ketenaran tidak mengubah karakter dasar seseorang, ia hanya memperbesarnya. Figur yang sejak awal menghargai relasi akan tetap menjaga 2-3 sahabat lama meski jadwal padat. Sebaliknya, yang dasarnya abai, akan semakin jauh.
Pertanyaan kuncinya lalu bergeser: bukan "mengapa dia sulit ditemui?", melainkan "seberapa adil ekspektasi kita terhadap ruang privat orang lain?". Karena pada akhirnya, tembok tak kasat mata itu dibangun bukan untuk menjauh, tapi agar ia tetap waras untuk melayani lebih baik.
Apakah seorang Suta Widhya mampu mengakomodasi keinginan ribuan bahkan jutaan orang yang ingin berkomunikasi dengan dirinya bila kelak tahun 2029 ditakdirkan menjadi Presiden Republik Indonesia ke-?
Pertanyaan di atas kita tunggu jawabannya ya.***