Rere, Perempuan Misterius Yang Ada Dalam Katalog Kami
Ilustrasi/Pixabay--
Jakarta, AktualNews- Jika Lusi adalah matahari pagi yang diceritakan semua orang, maka Rere adalah senja yang disimpan katalog kami diam-diam. Di halaman 17, tidak ada fotonya. Hanya tulisan tangan: Rere - Dulu terbang, sekarang mengaspal. Jangan hubungi kalau hanya ingin tahu masa lalunya.
Saya akhirnya menemuinya bukan di lobi hotel bintang lima seperti Lusi dulu, tapi di bawah hujan gerimis Bekasi, jam 6 pagi. Ia melepas helm ojolnya. Rambutnya basah. Dan matanya - saya masih ingat - mata yang pernah melihat awan dari jendela pesawat, kini melihat jalan.
"Dulu saya Lusi," katanya pelan. "Pramugari. Hafal nama bandara lebih hafal dari nama kekasih. Lalu saya pikir cinta adalah landing yang aman. Saya buka travel, saya menikah dengan lelaki kaya yang menjanjikan saya tidak perlu terbang lagi. Saya mendarat. Lama."
BACA JUGA:Warga Periuk Cilegon Protes, Hotel Regent Diduga Jadi Sarang Prostitusi Online
Ia menikah. Ia disimpan di rumah besar. Seperti pesawat yang diparkir di hanggar dan tidak pernah diterbangkan. Cantik, tapi sepi.
"Dia mencintai saya sebagai koleksi, bukan sebagai penerbang," bisiknya. "Sampai akhirnya saya sadar, saya lebih rindu turbulensi daripada diam di sangkar emas."
Perceraian itu bukan tragedi baginya. Itu adalah take off kedua.
Kini Rere menarik ojek. Bukan karena jatuh, Bung. Karena ia ingin jatuh cinta lagi dengan angin.
Setiap pagi ia menyalakan motor Beat putih peninggalan ayahnya, B 5147 TOY. Jaket hijau kebesaran. Tapi di setiap tikungan Kalimalang, ia menemukan romansa yang tidak pernah ia dapatkan di first class.
Romansa itu sederhana: seorang bapak yang meminjamkan jas hujan, seorang anak kecil penumpang yang memeluk tasnya erat-erat dan berbisik "Terima kasih ya Kak, jangan ngebut", dan secangkir kopi hitam di warung yang selalu disisakan pemilik warung untuknya tanpa ia minta.
"Saya dulu melayani penumpang dengan senyum SOP 5 menit. Sekarang saya mengantar seseorang pulang ke rumahnya, dan dia mendoakan saya di belakang. Itu lebih romantis dari semua puisi yang pernah dibacakan suami saya dulu," katanya, sambil menatap jauh.
Lalu ia tertawa. Tawa yang hilang 10 tahun lalu dan baru kembali pagi ini.
Saya bertanya, kenapa ia masih membiarkan namanya ada di katalog misterius kami?
Ia menjawab sambil memakai helmnya kembali:
- Share
-