Belajar Tentang Perempuan
Ilustrasi/Pixabay--
Jakarta, AktualNews- Anak laki-laki belajar tentang perempuan
bukan dari nasihat panjang, tapi dari ibunya
yang terus terlihat kuat meski sebenarnya lelah sendirian.
Pernah kepikiran nggak, kenapa banyak laki-laki dewasa secara nggak sadar “mengharapkan”
perempuan yang kuat, serba bisa dan nggak banyak minta tolong ?
Bukan karena mereka jahat.
Bukan karena mereka mau menindas.
Tapi sering kali karena…
sejak kecil, itulah perempuan yang mereka lihat setiap hari.
BACA JUGA:Yayasan Peduli Perempuan Indonesia Qaila (PPIQaila) Bagikan Cilok dan Es Teler di Taman Dramaga Permai
Banyak anak laki-laki tumbuh melihat ibunya :
• capek tapi tetap jalan.
• sedih tapi tetap ngurus rumah.
• butuh bantuan tapi bilang “nggak apa-apa”.
Tanpa sadar, otak anak merekam :
“Perempuan itu memang harus kuat.”
“Kalau ibu bisa sendiri, berarti wajar.”
Ini bukan soal niat.
Ini soal pola yang diwariskan tanpa pernah dibicarakan.
Kita sering bilang ke anak laki-laki :
“Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab.”
Tapi yang mereka lihat :
ibu mengurus semuanya sendiri, ayah membantu kalau sempat.
Pesan yang masuk ke kepala anak bukan kata-kata, tapi contoh hidup sehari-hari.
Dan contoh itu pelan-pelan
membentuk standar dalam hubungan kelak.
Kadang, perempuan terlihat kuat bukan karena ingin terlihat hebat, tapi karena nggak punya pilihan.
Dan ketika itu terus terjadi, anak laki-laki bisa tumbuh dengan keyakinan :
“Kalau perempuan lelah, itu normal.”
“Kalau perempuan memikul semuanya, itu biasa.”
Padahal…
yang biasa belum tentu sehat.
Kita sering keliru mendidik :
ingin anak mandiri, tapi tanpa sadar mencontohkan hidup sendirian.
Mandiri itu bisa bertanggung jawab.
Bukan memikul semuanya sendirian.
Bukan menahan lelah sendiri.
Bukan mematikan kebutuhan untuk dibantu.
Ini penting dikenalkan sejak kecil, terutama pada anak laki-laki.
Tugas kita bukan cuma membesarkan anak yang kuat.
Tapi membesarkan anak yang:
• paham kerja sama.
• nyaman berbagi peran.
• nggak merasa harga dirinya turun saat membantu.
• nggak takut terlihat peduli.
Karena rumah tangga itu bukan lomba siapa paling kuat, tapi tempat saling menguatkan. 
Anak laki-laki perlu belajar sejak dini bahwa
perempuan bukan diciptakan untuk memikul semuanya sendirian.
Bahwa di rumah, ada dua orang dewasa yang sama-sama bertanggung jawab.
Dan membantu tidak membuat kurang laki-laki. Justru menunjukkan kedewasaan. 
Kita tidak sedang menyiapkan anak laki-laki sekadar “jadi kuat”.
Kita sedang menyiapkan mereka menjadi laki-laki yang adil, punya empati dan sadar bahwa cinta itu hadir dalam bentuk keterlibatan.
BACA JUGA:Yayasan Peduli Perempuan Indonesia Qaila (PPIQaila) Kembali Mengukir Sejarah di Bogor
Semoga kita mendidik anak dengan kesadaran,
bukan sekadar mengulang pola yang dulu kita jalani tanpa pilihan.
Kalau utas ini terasa “kena”, mungkin karena kita pernah ada diposisinya.
Jadi harus di ingat , “anak itu mencontoh apa yg dilakukan bapak atau ibunya bukan hanya sekedar nasehat.“
Simpan.
Dan bagikan ke orang tua lain yang sedang berjuang
membesarkan anak dengan lebih sadar.***
- Share
-