“Pengurus mempunyai fungsi dan tanggung jawabnya. Pengawas memiliki fungsi pengawasan. Pengelola menjalankan operasional. SPPI juga memiliki mandat sesuai penugasannya. Jangan sampai perbedaan fungsi justru menjadi dualisme,” ujarnya.
Menurutnya, komunikasi terbuka menjadi kunci agar potensi gesekan dapat dicegah sejak awal.
Ia mengajak seluruh pihak membangun pola komunikasi yang mengedepankan data, aturan dan kepentingan anggota.
“Kalau ada persoalan, bicarakan secara terbuka. Jangan membangun komunikasi melalui asumsi atau informasi dari belakang. Kita semua memiliki tujuan yang sama,” tambahnya.
Calon SPPI: Banyak Hal Baru yang Didapat
Ketua Panitia Gathering #1 SPPI Karanganyar, Mirza Mar'i, mengaku pertemuan tersebut memberikan pengalaman dan pemahaman baru bagi para calon SPPI.
Menurut Mirza, calon pengelola dapat mendengarkan secara langsung bagaimana kondisi dan dinamika yang dihadapi pengurus KDKMP.
“Kesan kami, pertemuan hari ini cukup berkesan. Kami bisa mendengar langsung sudut pandang pengurus dan sedikit banyak mengetahui kondisi yang mereka hadapi di lapangan,” ungkapnya.
Dari komunikasi tersebut, lanjut Mirza, terlihat bahwa pengurus dan calon manajer sebenarnya mempunyai tujuan yang sama.
“Hanya saja pengalaman dan cara melihat persoalannya berbeda. Semoga komunikasi seperti ini bisa terus dijaga, sehingga ketika mulai bertugas kami bisa lebih mudah menyesuaikan diri, saling memahami, bekerja bersama dengan baik dan seirama,” katanya.
Pengurus KDKMP Berbagi Cerita dari Lapangan
Gathering juga diisi dengan penyampaian pengalaman dari perwakilan pengurus KDKMP.
Jonet, salah satu perwakilan pengurus KDKMP dari Dagen, Kecamatan Jaten, turut membagikan pengalaman mengenai perjalanan pembentukan dan perjuangan Koperasi Merah Putih hingga perkembangan yang telah dicapai.
Pengalaman tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi calon SPPI untuk memahami bahwa membangun koperasi membutuhkan proses panjang, konsistensi dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi masyarakat.