Jakarta, AktualNews- Dikatakan mubazir program MBG karena harus membangun properti baru, membeli alat-alat masak baru dan lain-lain keganjilan yang timbul oleh adanya kesempatan bisnis makan bergizi gratis lainnya.
Bila satu porsi senilai lima belas ribu rupiah, masih memungkinkan seluruh rumah makan yang ada bisa menyediakan. Rumah makan Kurai Taji, di Pasar Baru, Bojonggede, Bogor, Jawa Barat masih mampu menjual satu porsi dengan lauk bergizi senilai sembilan ribu rupiah.
Kami perhatikan lauk MBG dari sebuah Sekolah Dasar tidak jauh dari RM Kurai Taji tidak melebihi porsi yang dijual oleh rumah makan tersebut kecuali tambahan tahu dan sebuah jeruk manis seharga seribu rupiah.
BACA JUGA:IPAL Dapur MBG Gede Pangrango Dipastikan Sesuai Standar, Yayasan Tegaskan Isu Limbah Tidak Berdasar
Ringkasnya MBG sebaiknya merangkul rumah makan lokal (Padang, Tegal, Sunda, dll.) karena ini mempercepat skala layanan, mendukung dan menumbuhkan UMKM kuliner, memangkas biaya investasi gedung SPPG, dan mengurangi kebocoran supply/anggaran melalui pemanfaatan jaringan yang sudah ada.
Alasan utama dan manfaat (2–3 kalimat per poin)
Skala cepat tanpa investasi besar — Dengan bermitra ke rumah makan yang sudah beroperasi, MBG dapat memperluas cakupan layanan jauh lebih cepat dibanding membangun gedung SPPG baru, sehingga pengeluaran modal untuk infrastruktur berkurang secara signifikan .
Mendukung perkembangan usaha lokal — Kemitraan memberi rumah makan pemasukan tambahan dan stabil (kontrak pasokan/penyediaan makan), yang mendorong pertumbuhan UMKM kuliner di daerah seperti Padang, Tegal, dan Sunda.
Efisiensi operasional dan penghematan biaya — Memanfaatkan dapur dan tenaga yang sudah ada mengurangi duplikasi sumber daya (peralatan, tenaga kerja, logistik), sehingga biaya per porsi turun dan anggaran MBG lebih efisien .
Mengurangi risiko kebocoran dan pengawasan lebih mudah — Bekerja dengan mitra lokal dengan kontrak, SOP, dan pelaporan memungkinkan penelusuran aliran dana dan bahan makanan, mengurangi ruang untuk korupsi atau penyalahgunaan dibanding pembangunan dan pengelolaan gedung baru sendiri.
Keberagaman menu dan penerimaan komunitas — Rumah makan tradisional menyediakan variasi kuliner yang sesuai selera lokal, meningkatkan penerimaan siswa/penerima dan mengurangi pemborosan makanan karena makanan lebih sesuai preferensi lokal.
Pemberdayaan rantai pasok lokal — Kerja sama membuka peluang bagi petani, pemasok bahan baku, dan logistik lokal sehingga ekonomi lokal berputar lebih besar dan rantai pasok lebih singkat (mengurangi kerusakan/biaya distribusi).
Contoh penerapan singkat (2–3 langkah)
Seleksi dan sertifikasi: audit higienis, kapasitas produksi, dan kepatuhan pada standar gizi; tandatangani perjanjian layanan.