Jakarta, AktualNews -Saat umat Islam di berbagai penjuru dunia merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah dengan sapaan "Mohon maaf lahir dan batin", suasana kemenangan dan kebersamaan ini seolah menjadi kontras yang menyakitkan dengan kenyataan yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Di sana, ledakan rudal dan suara peperangan menggantikan suara tawa keluarga, sementara tempat ibadah dan rumah warga sipil menjadi target serangan. Pesan perdamaian yang terkandung dalam Idul Fitri tidak pernah se relevan ini untuk menjadi pijakan bagi dunia dalam mengakhiri siklus kekerasan yang terus meluluhlantakkan kawasan tersebut.
Kontras yang Menyakitkan, Sukacita Raya dan Derita Perang
Idul Fitri seharusnya menjadi momen di mana setiap orang merasakan kedamaian dan kebahagiaan, tanpa terkecuali. Namun di Timur Tengah, ribuan orang tidak bisa merayakan hari raya dengan tenang. Sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, situasi kawasan semakin memanas: serangan balasan Iran menimpa beberapa negara, Selat Hormuz ditutup dan menyebabkan harga minyak dunia melonjak hingga di atas US$100 per barel, sedangkan di Palestina, ekspansi pemukiman ilegal dan kekerasan terhadap warga sipil terus terjadi bahkan selama bulan Ramadan yang suci.
BACA JUGA:Sejarah Panjang Konflik Palestina – Israel Hingga Detik Ini
Bahkan pada hari raya itu sendiri, tepatnya pada Jumat 20 Maret 2026, militer Iran menyerang target di Yerusalem Barat, Haifa, dan pangkalan udara Amerika di Uni Emirat Arab. Sementara itu, ratusan ribu pengungsi melarikan diri dari rumah mereka, termasuk sekitar 140.000 orang yang melarikan diri ke Suriah dari Lebanon akibat serangan udara Israel. Perempuan dan anak-anak, yang seharusnya menikmati kebahagiaan hari raya, menjadi kelompok paling rentan dengan kehilangan keluarga dan tempat tinggal, seperti yang disoroti oleh pemerhati perempuan dan anak Novi Anggriani.
Idul Fitri sebagai Panggilan untuk Bertindak
Ajaran Islam sebagai agama rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semesta alam) bukanlah sekadar kata-kata kosong. Di tengah konflik yang terjadi, momen Idul Fitri harus menjadi titik balik untuk seluruh pihak yang terlibat dan komunitas internasional agar mengambil langkah konkret menuju perdamaian. Pemerintah China bahkan mengimbau agar ada penghentian konflik saat perayaan Idul Fitri, menyatakan bahwa penggunaan kekerasan bukan solusi dan hanya akan menciptakan kebencian baru.
Indonesia, sebagai negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, memiliki peran penting dalam menyuarakan pesan perdamaian. Seperti yang dikemukakan dalam sebuah studi tentang peran dunia Islam dalam perdamaian global, negara-negara dengan mayoritas muslim dapat berkontribusi aktif melalui diplomasi, kerja sama regional, dan dukungan terhadap upaya kemanusiaan. Selain itu, organisasi seperti Organisasi Kerjasama Islam (OKI) juga harus lebih proaktif dalam memfasilitasi dialog antara pihak-pihak yang berseteru.
Perjanjian dan Dialog adalah Satu-Satunya Jalan
Sejarah telah membuktikan bahwa konflik bersenjata tidak pernah memberikan solusi abadi. Perjanjian perdamaian seperti Perjanjian Abraham yang mempererat hubungan antara Israel dengan beberapa negara Arab menunjukkan bahwa diplomasi dapat membuka jalan bagi stabilitas. Di tengah eskalasi konflik saat ini, penting bagi semua pihak untuk menghentikan operasi militer dan kembali ke meja perundingan.
Pemimpin dunia juga harus menyadari bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada kawasan itu sendiri, tetapi juga pada stabilitas ekonomi global, ketersediaan energi, dan keamanan perdagangan dunia luas. Oleh karena itu, upaya mediasi internasional tidak boleh hanya sebatas retorika, tetapi harus diikuti dengan tindakan nyata untuk melindungi warga sipil dan menemukan solusi yang adil bagi semua pihak yang terlibat.
BACA JUGA:Pengadilan Israel Menolak Amnesty International karena Kurangnya Bukti
Jadikan Idul Fitri sebagai Momentum Perubahan
Idul Fitri mengajarkan kita tentang pentingnya memaafkan, berbagi, dan hidup rukun. Di tengah kegelapan konflik yang melanda Timur Tengah, pesan ini harus menjadi cahaya yang menerangi jalan menuju perdamaian. Setiap individu juga dapat berkontribusi dengan cara menyebarkan kesadaran tentang situasi di kawasan tersebut, mendukung upaya kemanusiaan, dan menyerukan perdamaian kepada pemimpin kita.
Semoga Idul Fitri kali ini bukan hanya menjadi momen perayaan pribadi atau keluarga, tetapi juga menjadi titik awal di mana dunia bersatu untuk mengakhiri derita dan membangun masa depan yang lebih damai bagi semua orang.***