Meski raganya jauh, kabar dari kampung terus berdatangan. Tentang laporan yang belum selesai. Tentang mantan istrinya yang akan berangkat ke luar negeri sebagai TKW. Setiap kabar seperti membuka luka lama yang belum kering.
Aponk mulai memahami:
jarak tidak selalu menyembuhkan. Kadang justru membuat luka terasa lebih dalam.
Belajar Bertahan
Di kota asing itu, Aponk belajar hidup dengan cara baru—lebih diam, lebih menunduk, lebih sabar. Ia tidak lagi mudah tersulut emosi. Hidup telah mengajarinya dengan cara yang keras.
Ia mulai menyadari bahwa menjadi lelaki bukan tentang siapa yang paling berani bertarung, tetapi siapa yang mampu menahan diri ketika dunia terasa tidak adil.
Setiap malam sebelum tidur, ia memanjatkan doa sederhana:
agar anaknya tumbuh baik,
agar dirinya diberi kekuatan,
dan agar masa lalu berhenti mengejarnya suatu hari nanti.
BACA JUGA:Senyum yang Mengoyak Hati
Tahun Baru yang Sebenarnya
Tahun baru bukan tentang tanggal di kalender. Bagi Aponk, tahun baru adalah saat ia mulai berdamai dengan dirinya sendiri. Luka itu masih ada, bekasnya tak akan pernah hilang sepenuhnya. Namun kini ia belajar berjalan sambil menanggungnya.