Dari Jakarta ke Paris, ASA dan IFI Dukung Talenta Muda Musik Klasik Indonesia

Dari Jakarta ke Paris, ASA dan IFI Dukung Talenta Muda Musik Klasik Indonesia

Direktur IFI, Jules Irrmann, Ananda Sukarlan, Michael Anthony Kwok didampingi ibunda Lia saat konfres di IFI, Jakarta.--

Jakarta, AktualNews -Perjalanan Michael Anthony Kwok menuju program musik di Prancis berawal dari keberhasilannya meraih Hadiah Utama Ananda Sukarlan Award (ASA) 2025. Prestasi tersebut sekaligus memberinya kesempatan mengikuti program musik di Paris melalui dukungan kerja sama antara Ananda Sukarlan Center (ASC), Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, dan Institut français d’Indonésie (IFI).

Michael kemudian menjalani program di Paris pada 14–20 Juni 2026. Selama berada di Prancis, ia mengikuti program intensif di Conservatoire Municipal Charles Munch dan menjalani enam sesi pembelajaran privat bersama tiga pianis Prancis.

BACA JUGA:IFI Gelar Joko Anwar Night Jelang Festival Film Fantastis Gérardmer 2026

Dalam program tersebut, Michael mempelajari teknik piano dan interpretasi musik bersama Orlando Bass, mendalami karya-karya Maurice Ravel bersama Isabelle Dubuis, serta mempelajari karya Francis Poulenc dan Claude Debussy bersama Éric Le Sage, pemenang Kompetisi Piano Robert Schumann 1989.


Prancis mencatat sejarah baru untuk Ananda Sukarlan Award, karena Michael Anthony Kwok menjadi pemenang pertama dalam sejarah kompetisi tersebut yang merupakan penyandang spektrum autisme.--

Selain mengikuti pembelajaran, Michael juga mendapat kesempatan tampil di Festival Fièvres Musicales 2026 di Paris pada 17 dan 18 Juni. Ia membawakan karya Maurice Ravel serta Rapsodia Nusantara No. 44 karya Ananda Sukarlan yang diciptakan khusus untuknya.

Perjalanan Michael juga memiliki makna khusus karena ia merupakan penyandang spektrum autisme. Keikutsertaannya dalam program di Prancis mencatat sejarah baru bagi Ananda Sukarlan Award, karena Michael menjadi pemenang pertama dalam sejarah kompetisi tersebut yang merupakan penyandang spektrum autisme.

Namun, dalam pemberitaan, autisme Michael sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan hidupnya, bukan sebagai satu-satunya identitas dirinya. Fokus utama tetap pada kemampuan, prestasi, proses belajar, dan kontribusinya sebagai musisi muda.

Dengan pendekatan tersebut, kisah Michael dapat menjadi gambaran bahwa kesempatan yang setara dalam pendidikan dan mobilitas seni dapat membuka ruang bagi talenta dengan beragam karakteristik untuk berkembang dan tampil di panggung internasional.

BACA JUGA:Pameran “Les Bleus” Hadir di Jakarta, Menyusuri Sejarah Timnas Prancis dari 1930 hingga Era Mbappé

Perjalanan Michael dari panggung Ananda Sukarlan Award hingga tampil di Paris menunjukkan bahwa dukungan terhadap talenta muda tidak hanya berbicara tentang pencapaian kompetisi, tetapi juga tentang bagaimana sebuah ekosistem seni memberikan akses, ruang belajar, dan kesempatan untuk berkembang.***

Share
Berita Lainnya