Dia mencontohkan penanganan di wilayah Tambak. Menurut dia, pemadaman di lokasi tersebut baru berjalan efektif setelah lurah setempat naik ke lokasi dan mengetahui kondisi personel yang berada di sana. Relawan kemudian membantu mengarahkan personel untuk naik ke titik kebakaran.
Selain mempertanyakan anggaran dan penanganan darurat, Ian meminta pemerintah memperkuat mitigasi bencana di kawasan Gunung Lawu. Menurut dia, kebakaran hutan bukan kejadian pertama sehingga evaluasi menyeluruh diperlukan agar penanganan pada masa mendatang lebih cepat dan terkoordinasi.
Dia menilai informasi mengenai potensi kemarau panjang semestinya menjadi salah satu dasar untuk mempersiapkan langkah antisipasi, termasuk kesiapan personel, logistik, peralatan pemadaman, dan sistem komunikasi antarpihak.
Ian juga menyoroti laporan mengenai satwa yang turun ke permukiman dan kambing yang mati di wilayah Tawangmangu setelah kebakaran. Dia meminta instansi terkait, termasuk pengelola kawasan konservasi dan lembaga yang berwenang menangani satwa, menyusun langkah mitigasi untuk mengurangi dampak kebakaran terhadap lingkungan dan masyarakat.
"Kami berharap evaluasi penanganan karhutla tidak berhenti pada pemadaman api, tetapi juga mencakup transparansi penggunaan anggaran, kesiapan menghadapi bencana, dan koordinasi antara pemerintah dengan relawan,"pungkasnya.
Disisi lain, Pemkab Karanganyar menganggarkan Rp4,7 miliar untuk bisya tidak terduga. Anggaran ini mengalami penurunan dari sebelumnya Rp5 miliar. Anggaran ini dipergunakan untuk seluruh jenis bencana alam.***