“Kami datang ke Istana membawa suara kampung-kampung Jakarta. Jangan hanya tata kotanya, tetapi lindungi rakyat yang menghidupinya. Jangan hanya memberikan kepastian administrasi pertanahan, tetapi selesaikan pula konflik dan ketimpangan penguasaan tanahnya. Reforma agraria harus hadir nyata bagi rakyat kota,” tegas Koordinator Massa Aksi ATUR Jakarta.
Aksi tersebut berasal dari sedikitnya 19 kampung kota dan jaringan rakyat Jakarta yang tergabung dalam Aliansi Tanah untuk Rakyat (ATUR) Jakarta. Mereka berasal dari RW 07 Johar Baru, Kampung Sawah Semper Timur, Tridarma Cilandak, Rawa Badung Cakung, Kebon Pala Makasar, Kwini 8, Kebon Sayur Ciracas, Kelapa Dua Wetan, Hang Jebat/Kampung Gunung, Kampung Sawah Rawa Terate, Kampung Sawah Cakung Barat, Kampung Bayam Madani, Kampung Rawa Timur, JRMK, Kedaung Kali Angke, GMNI Jakarta, Front Timur, Penjaringan, Kalimati, dan Kampung Rawa Indah.
Kehadiran berbagai kampung dan jaringan tersebut menegaskan bahwa persoalan agraria perkotaan bukan persoalan satu atau dua kampung, melainkan persoalan bersama yang membutuhkan keberpihakan dan penyelesaian negara secara menyeluruh.***