Jakarta, AktualNews -Ada karya sastra "Dari Ave Maria Ke Jalan Lain ke Roma" Seakan buku ini menyesuaikan berita yang beredar dari Kadin menyebut: Program Makan Bergizi Gratis butuh 700 juta butir telur per tahun*. Kalau dibagi 12 bulan = sekitar 58 juta butir/bulan.
2. Kenapa gandeng China?
Kapasitas produksi telur dalam negeri dinilai belum sanggup ngejar lonjakan permintaan MBG dalam waktu cepat. Jadi Kadin jajaki kerja sama business to business dengan China untuk jaga pasokan telur, ayam, susu. Bukan berarti impor semua. Fokusnya ke rantai pasok & transfer teknologi peternakan.
3. Pro-kontranya memang rame
Ada yang kritik: kenapa nggak berdayakan peternak lokal dulu.
Argumen pemerintah/Kadin: kebutuhan MBG gede banget & mendesak. Kalau nunggu produksi lokal naik, programnya bisa telat jalan. Jadi kolaborasi dianggap solusi jangka pendek biar stabil.
Jadi waraskah?
Tergantung sudut pandang.
- Sisi pemerintah : Butuh 58 juta telur/bulan buat puluhan juta anak. Kalau stok kurang, program macet. Cari mitra itu realistis.
- Sisi peternak lokal: Takutnya impor bikin harga jatuh & matiin peternak kecil. Maunya pemerintah kasih modal & bimbing peternak lokal biar mandiri.
Link yang memberitakan terkait judul di atas http://share.google itu biasanya rangkuman/redirect. Sumber aslinya ada di banyak media, salah satunya yang bahas 700 juta/tahun itu tadi.
Anda pilih yang mana nih? Tim "utamakan lokal dulu meski telat" atau tim "jalanin dulu programnya, stok aman"?
Soalnya emang kedengeran absurd: program "bergizi gratis" buat anak Indonesia, tapi telurnya mau dicari ke China. Kesannya kayak kita nggak sanggup nyediain telur sendiri.
Tapi ya itu, angka 700 juta/tahun buat puluhan juta anak tiap hari emang nggak main-main. Produksi lokal tiba-tiba disuruh nambah 58 juta butir/bulan ya peternak juga kaget.