Tokoh HAM internasional itu juga menekankan bahwa silaturahmi seperti ini adalah contoh nyata bagaimana ulama dan umara dapat bekerja sama menjaga persatuan bangsa. “Saya berterima kasih kepada Jenderal Dudung Abdurachman atas kebersamaan hari ini. Pesan beliau tentang doa, puasa, dan kepedulian sosial adalah pengingat bagi kita semua bahwa iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Saya menantikan lebih banyak acara seperti ini, karena silaturahmi adalah kunci menjaga keutuhan bangsa,” tambah Wilson Lalengke.
Makna Filosofis Silaturahmi
Acara ini juga dapat dilihat dari perspektif filosofis. Para filsuf dunia telah lama menekankan pentingnya hubungan antar manusia sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Plato menekankan bahwa keadilan adalah harmoni dalam masyarakat. Silaturahmi ulama dan umara adalah wujud harmoni yang menjaga keseimbangan moral dan politik.
Demikian juga Immanuel Kant yang mengingatkan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan alat. Silaturahmi memastikan setiap individu dihargai sebagai manusia bermartabat. John Locke menegaskan silaturahmi memperkuat kontrak sosial antara rakyat dan pemerintah dengan menghadirkan moralitas dan kebijakan yang berpihak pada rakyat.
Mahatma Gandhi menekankan kekuatan moral di atas kekuatan fisik. Silaturahmi adalah kekuatan moral yang mampu menahan arus ideologi transnasional yang merusak. Pesan Jenderal Dudung mengenai kepedulian sosial adalah manifestasi dari ketinggian moralitas dan kepedulian yang sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia saat ini untuk merajut kembali persatuan.
Dampak Sosial dan Kebangsaan
Silaturahmi ulama dan umara memiliki dampak besar bagi masyarakat. Pertama, ia membentuk masyarakat yang cerdas dan toleran, karena ulama memberikan pemahaman agama yang benar, sementara umara menciptakan kebijakan yang mendukung persatuan. Kedua, silaturahmi membantu membendung pengaruh ideologi transnasional yang disruptif. Ketiga, ia menjaga persatuan bangsa dengan panduan moral dan regulasi yang melindungi masyarakat.
Selain itu, silaturahmi juga membangun kepercayaan publik. Ketika ulama dan umara menunjukkan kerja sama yang solid, masyarakat akan lebih percaya pada pemerintah dan lembaga keagamaan. Hal ini memperkuat legitimasi sosial dan politik dalam menghadapi tantangan bangsa.
Acara buka bersama di kediaman Ustadz Anton Susanto pada 12 Maret 2026 itu menjadi momentum penting dalam memperkuat silaturahmi ulama dan umara. Ceramah Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman memberikan pesan mendalam tentang doa, puasa, dan kepedulian sosial, sementara apresiasi dari Wilson Lalengke menegaskan pentingnya kebersamaan ini bagi persatuan bangsa.
Silaturahmi bukan hanya tradisi, tetapi strategi kebangsaan yang terbukti efektif menjaga keutuhan bangsa. Dengan dukungan tokoh-tokoh nasional dan masyarakat, acara ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat sinergi antara moralitas dan kebijakan. Kehadiran Wilson Lalengke dan ucapan terima kasihnya kepada Jenderal Dudung Abdurachman dan Ustadz Anton Susanto menegaskan bahwa silaturahmi adalah kunci menuju Indonesia yang lebih kuat, adil, dan sejahtera.***