Kabupaten Bogor, Aktualnews – Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Perusahaan Daerah Air Minum (Perumda) Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor telah mengaktifkan sistem siaga penuh mulai hari ini hingga 24 Maret 2026. Langkah ini dilakukan untuk memastikan distribusi air bersih tetap optimal mengantisipasi peningkatan kebutuhan yang diperkirakan mencapai 15-20 persen lebih tinggi dari hari biasa.
Lonjakan permintaan air diprediksi terjadi akibat beberapa faktor utama, antara lain arus balik mudik yang membawa masyarakat kembali ke Kabupaten Bogor, kegiatan ibadah Salat Eid dan silaturahmi antar keluarga, serta peningkatan kunjungan wisatawan ke destinasi wisata, restoran, dan akomodasi di seluruh wilayah pelayanan.
BACA JUGA:KMP dan Penggunaan Aset Desa: Antara Otonomi Koperasi dan Potensi Maladministrasi
Direktur Umum Perumda Tirta Kahuripan, Abdul Somad, menjelaskan bahwa persiapan siaga Lebaran telah dilakukan sejak satu bulan yang lalu untuk meminimalkan risiko gangguan layanan.
"Kami menerapkan pola pengamanan layanan berlapis yang mencakup seluruh rantai operasional – dari pengolahan air baku di Instalasi Pengolahan Air (IPA) hingga distribusi ke pelanggan. Tujuan utama adalah memastikan suplai air tetap lancar dan berkualitas sesuai standar," ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat Tirta Kahuripan, Cibinong.
Langkah Antisipasi yang Dilaksanakan
- Personel Siaga 24 Jam: Sebanyak 297 petugas teknis dan nonteknis ditempatkan di sembilan wilayah pelayanan, bekerja secara bergiliran tanpa jeda selama periode siaga.
- Armada Tangki Siaga: 11 unit mobil tangki air siap beroperasi kapan saja untuk memenuhi kebutuhan darurat, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami tekanan distribusi.
- Cadangan Operasional: Disiapkan stok bahan kimia pengolahan air cukup untuk 15 hari, 8 unit genset cadangan, serta material perpipaan guna mempercepat penanganan kerusakan dengan target waktu respons maksimal 2 jam.
- Pemantauan Real-Time: Sistem pemantauan kualitas dan debit air berjalan secara otomatis di seluruh titik pemantauan untuk mendeteksi perubahan kondisi dengan cepat.
Perumda juga mengakui bahwa potensi gangguan masih dapat terjadi akibat faktor alam, seperti hujan ekstrem yang meningkatkan kadar sedimen di sungai sumber air baku atau risiko pencemaran yang tidak terduga. Untuk itu, masyarakat diimbau untuk melakukan langkah antisipatif bersama:
BACA JUGA:Bolehkah Penyidik Membujuk Terlapor Untuk Cabut Kuasa?
1. Menyimpan air bersih secukupnya sebagai cadangan sebelum libur panjang dimulai
2. Menggunakan air secara hemat dan bijak