Kemang, AktualNews - 06 Februari 2026 Kecamatan Kemang memperingati hari jadi yang ke-31 tahun dengan warna yang cukup mencuat: sebuah tasyakuran yang juga menjadi panggung untuk menyampaikan suara yang telah terjebak dalam diam – peluncuran Konsorsium Pemuda Kemang sebagai wadah yang diharapkan bisa mengisi ruang kosong yang sengaja atau tidak sengaja ditinggalkan oleh pihak yang seharusnya menjadi motor penggerak.
Acara yang dihadiri oleh Sekcam Kemang Budi Riva, Forkopimcam, Ketua Aliansi Ormas Kemang Asep Tagor, Ketua KNPI Kemang Adi Sanjaya, serta berbagai unsur organisasi pemuda, tidak hanya berisi ucapan syukur, melainkan juga kritik yang terbungkus dalam harapan yang mendalam.
BACA JUGA:Kegiatan Reses yang Dilaksanakan di Kemang Bogor Berjalan Lancar
"Kita Melepas Baju Bersama, Tapi Siapa yang Mengurus Rumahnya?"
Alwi, Koordinator Pemuda Kemang yang menjadi otak di balik inisiasi konsorsium, tidak menyembunyikan rasa kecewa yang telah menumpuk selama bertahun-tahun. "Momentum hari ulang tahun seharusnya jadi momen untuk melihat sejauh mana kita berkembang – tapi yang kita lihat, banyak ruang yang kosong karena kita dibiarkan sendiri mencari jalan," ujarnya dengan nada yang tegas namun penuh rasa ingin tahu.
Menurutnya, pembangunan di beberapa kawasan seperti berjalan seolah tanpa "izin" pemuda, padahal mereka adalah pihak yang paling merasakan dampaknya sehari-hari. "Kita bukan hanya ingin berdiri sebagai penonton atau pengawal yang hanya bertepuk tangan. Kita punya otak untuk berpikir, punya hati untuk peduli – tapi sayangnya, ruang untuk itu seperti ditutup rapat, atau mungkin sengaja dibiarkan tertutup karena kurangnya perhatian," jelasnya.
Alwi mengaku bahwa ego dan sensitivitas antar kelompok pemuda memang pernah menjadi penghalang, tapi kini mereka menyadari bahwa "musuh bersama" bukan satu sama lain, melainkan sikap acuh yang membuat aspirasi hanya menjadi omongan kosong. "Kita akan menyusun gagasan konkrit dan mencari jalan untuk sampai ke meja mereka – karena jika kita tidak datang sendiri, sepertinya tak akan ada yang mengundang," tandasnya, merujuk pada rencana audiensi yang akan dilakukan dalam waktu dekat.
"Camat Hanya Nama di Plang Kantor?"
Salah satu poin yang menusuk adalah keluhan tentang ketidakhadiran kepala kecamatan dalam setiap kegiatan kepemudaan yang digelar di wilayahnya. "Sejak masa Camat Imam Mahmudi hingga sekarang, saya bahkan harus berpikir dua kali untuk menyebut nama camat saat ini – karena beliau lebih sering terlihat di acara Pemda atau program yang mungkin dianggap lebih 'penting', bukan di tengah-tengah pemuda yang seharusnya jadi tulang punggung pembangunan," ucap Alwi dengan nada yang penuh rasa heran.
Ia menegaskan bahwa Forkopimcam memang ada sebagai simbol, tapi simbol tanpa aksi hanyalah patung yang tak berguna. "Pemuda bukan hanya angka dalam statistik SDM, melainkan orang-orang yang bangun setiap pagi dan melihat langsung apa yang benar-benar terjadi di jalanan Kemang. Namun sepertinya, suara kita hanya terdengar jika kita berteriak cukup keras," katanya.
"Kita Hanya Mewakili, Bukan Bisa Bicara Atas Nama Mereka"
Sekcam Budi Riva yang hadir mewakili pemerintah kecamatan tampak cukup terbatas dalam memberikan tanggapan. "Para pemuda punya harapan yang besar, dan konsorsium ini memang bisa jadi wadah yang baik untuk berbagi ide – karena berbeda dengan ormas yang punya fokus masing-masing, ini lebih ke lintas sektor," ujarnya.
Ketika ditanya tentang ketidakhadiran Camat Kemang yang dikatakan sedang ada kegiatan di Pemda terkait Giat Hutan Kota, ia hanya bisa mengatakan: "Sebagai bawahannya, saya tidak berhak menilai apakah alasan itu cukup atau tidak. Yang bisa saya lakukan adalah menyampaikan apa yang kalian katakan kepada beliau – tapi saya tidak bisa menjamin apakah akan ada tanggapan yang nyata atau hanya sekadar ucapan terima kasih."
Ia juga mengakui bahwa selama ini komunikasi antara pemerintah kecamatan dan pemuda memang belum optimal, "mungkin karena ada kesalahpahaman atau memang kurangnya upaya dari kedua pihak."