Jakarta, AktualNews- Media sosial kembali menyederhanakan persoalan bangsa menjadi pilihan palsu, yaitu pendidikan gratis atau makan gratis. Pertanyaan ini viral, emosional, dan berbahaya. Berbahaya karena ia mengaburkan satu fakta mendasar, bahwa bagi seorang anak yang lapar, keduanya bukan pilihan, melainkan kebutuhan yang sama-sama terhalang oleh tembok birokrasi!
Di sebuah sekolah dasar di Jawa Barat, seorang guru bercerita harus mengetuk pintu ke pintu untuk mengumpulkan sumbangan sayur. Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah terbentuk, namun aliran dana belum tiba. Cerita serupa datang dari wilayah timur Indonesia, dapur berjalan, tetapi listrik belum tersambung karena urusan administrasi yang berlarut.
Sementara itu, di pusat, negara sedang mengelola anggaran MBG dalam skala sangat besar melalui sistem rekening virtual account.
Di titik inilah MBG harus dibaca bukan sekadar sebagai program gizi, melainkan sebagai ujian kapasitas tata kelola negara.
Hak yang menyatu, tetapi dipisahkan oleh sistem anggaran
Konstitusi tidak pernah mempertentangkan makan dan pendidikan. Pasal 28C ayat (1) UUD 1945 dengan tegas meletakkan pemenuhan kebutuhan dasar dan hak atas pendidikan sebagai satu kesatuan. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional memperkuatnya dengan menjamin pelayanan kesejahteraan bagi peserta didik.
Namun dalam praktik administrasi negara, hak yang menyatu itu dipisahkan ke dalam fungsi anggaran yang berbeda. Program makan ditempatkan dalam kerangka kesehatan dan perlindungan sosial, sementara pendidikan berjalan di jalurnya sendiri.
Akibatnya, publik dibuat bingung ketika bertanya mengapa makan tidak dibiayai dana BOS. Jawabannya sah secara teknokratis karena memang bukan di sana posnya, tetapi kebingungan ini kemudian dimanfaatkan untuk membangun kritik yang keliru!
Perut kenyang sebagai prasyarat belajar
Ilmu pengetahuan telah lama menyelesaikan debat ini. Teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow menempatkan kebutuhan fisiologis sebagai fondasi. Anak yang lapar berada dalam mode bertahan hidup, bukan mode belajar. Berbagai penelitian kesehatan dan pendidikan menunjukkan bahwa defisit nutrisi menurunkan konsentrasi dan daya serap kognitif.
Dengan bukti tersebut, mempertanyakan urgensi makan di sekolah sama dengan mencoba mulai membangun rumah dari atap!
BGN sah secara hukum, akan diuji oleh tata kelola